RINA KANIA, Dirikan Kerajaan Bisnis Jamur Kecil-kecilan
Sebagai seorang ibu,Rina bertanggung jawab membiayai dua anaknya.Kegagalan dalam berumah tangga justru memicunya menjadi entrepreneur.
Namun sayangnya makanan ini belum terlalu populer di kalangan masyarakat. Berawal dari pemikiran tersebut, Rina Kania mendirikan perusahaan Saffa Lestari pada Juni 2005. Perusahaan makanan tersebut menggunakan berbagai jenis jamur sebagai bahan baku utama.
”Jamur adalah makanan sehat yang gizinya tidak kalah dengan daging lho.Makanya saya memilihnya sebagai bahan baku utama makanan di perusahaan kecil saya ini,” ujar Rina.
Awalnya Rina hanya memproduksi makanan ringan dengan label Alifa Mushroom Chips.Keripik jamur itu terbuat dari jamur tiram serta jamur kuping putih dan hitam. Dia menyediakan jamur dalam berbagai rasa seperti barbeque, keju,jagung bakar,pedas, dan manis.
Saffa Lestari dapat menghasilkan 20 kg kerupuk yang dibungkus dalam berbagai varian. Harganya berkisar Rp9.000–11.000. Usahanya termasuk usaha padat karya. Rina hanya mempekerjakan tiga orang dan satu orang yang khusus mengurus kebun jamur di Garut.
Rina bercerita, pelaku usaha makanan olahan berbahan jamur kerap kesulitan mendapatkan bahan baku jamur kuping.Pasalnya,salah satu varian jamur kayu tersebut hanya tumbuh dengan baik di ketinggian 800–1.200 meter.
”Kalau jamur tiram masih bisa di dapat di pasar yang ada di Bandung, tetapi jamur kuping tidak. Biar nggak susah, pengusaha makanan olahan seperti saya harus punya kebun jamur sendiri,”kata Rina. Kebun jamur milik Rina tidak luas, hanya 5×8 meter yang terdiri atas 2.000 baglog. Setiap baglog dapat menghasilkan 7 ons jamur siap olah yang dapat dipanen setelah enam hingga tujuh bulan.
Tidak puas dengan pemasaran Mushroom Chips, Rina membuka rumah makan yang menyajikan berbagai jenis hidangan berbahan jamur, mulai makanan kecil hingga minuman berbahan baku jamur.
Ada Indikasi Penggelembungan Suara di Pilkada Subang
Meski masih berupa indikasi dan penelusuran, namun terdapat indikasi kecurangan dalam perolehan suara di Pilkada Subang. Hal tersebut terungkap dari pernyataan tim sukses dua pasangan calon bupati Subang, yakni Imas Aryumingsih – Primus Yustisio dan Bambang Heryanto – Alma Lucyanti.
Bahkan, tim sukses calon bupati Imas Aryumningsih – Primus Yustusio bersiap melakukan gugatan ke KPU Subang menyusul hasil akhir hitung cepat versi KPU setempat yang memenangkan pasangan calon incumbent Eep Hidayat – Ojang Sohandi.
Dari informasi yang berhasil dihimpun, dasar gugatan terutama penggelembungan suara pada saat pencoblosan yang terjadi di berbagai kecamatan khususnya wilayah Subang Selatan. Pihak yang merasa dirugikan pun masih terus melakukan investigasi dan mengumpulkan data-data yang ada di lapangan. Selain itu, banyaknya aparat desa dan kecamatan disinyalir mengkoordinasi massa untuk mencoblos pasangan tertentu.
Menanggapi hal tersebut, Rokib El-Faris, Ketua KPUD Subang, mempersilakan para tim sukses pasangan calon melakukan keberatan atau gugatannya ke KPUD. “Tetapi sesuai aturan yaitu setelah selesai penghitungan suara manual pada Sabtu (1/11),” tandasnya.
Primus Yustisio Dikejar Utang?
Belum juga diperoleh kepastian soal hasil Pilkada Kabupaten Subang, aktor Primus Yustisio diterpa isu tidak sedap. Bintang sinetron yang mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati ini, dikabarkan menderita kekalahan dan mulai menerima tagihan utang dari para tim suksesnya. Para pendukungnya konon mulai khawatir dengan uang yang sudah mereka gunakan untuk mendukung suami Jihan Fahira itu.
Seperti dilansir dari Kapanlagi, konfirmasi seputar kabar kurang sedap itu segera dilakukan ke kediaman Primus, di Komplek Slipi Jl. Widya Chandra 11 No. 2 A, Jakarta Selatan, Rabu (28/10). Namun rumah mewah itu hanya ditunggui oleh Gathan Nagie, sepupu Primus. Sementara Primus bersama Jihan Fahira sedang berada di Subang, memantau penghitungan Pilkada di KPUD setempat.
Gathan, saat dimintai keterangan membantah perihal gosip utang biaya kampanye itu. Justru menurutnya kekayaan yang dimiliki kakak sepupunya itu hampir menyentuh Rp40 Miliar. “Primus tidak terlibat utang, untuk kampanye dia punya uang pribadi,” ungkapnya.
Sementara untuk biaya Pilkada menurut Gathan tidak lebih dari sekitar Rp10 Miliar, itu pun harus ditanggung oleh dua calon. Tentu bukan suatu yang berat, hingga harus menggadaikan rumah atau hutang yang lainnya, katanya.
“Saya baru tahu dari teman-teman, itu isu atau gosip yang dikeluarkan dari lawan politiknya,” ungkap Gathan.Gathan juga menantang para wartawan, mengajak untuk memeriksa rumah itu, untuk memastikan kalau memang tidak ada plang, tanda rumah disita.
“Kalau rumah ini disita pasti ada plangnya, kalau tidak percaya lihat ke dalam nggak ada,” pungkasnya dengan nada tinggi.
sumber: kapanlagi.com
Wana Wisata Curug Cijalu Subang, Tempat Mandi Bidadari

Subang yang merupakan bagian dari propinsi Jawa Barat yang termasuk ke dalam tanah sunda atau parahyangan memiliki beberapa tempat wana wisata alam yang merupakan alternatif setelah melewati kota Bandung. Salah satu wana wisata yang ditawarkanya selain daripada Guung Tangkuban Parahu yang terkenal dengan legendanya Sangkuriang terdapat wana wisata alam berupa air terjun yaitu Curug Cijalu.
Dilansir dari situs pemerintahan daerah kabupaten Subang, dideskripsikan bahwa Curug Cijalu terletak di Kecamatan Sagalaherang, berjarak 37 Km dari kota Subang ke arah selatan (1 jam perjalanan) dan sekitar 50 Km dari Kota Bandung kearah utara (1,5 jam perjalanan). Wana wisata ini terletak pada ketinggian 1.30 m dpl, konfigurasi lapangan umumnya bergelombang . Kawasan ini mempunyai curah hujan 2.700 mm/th dengan suhu udara 18-26C. Seperti namanya, curug (air terjun, Bahasa Sunda), hanya sepasang air terjun yang tumpahan airnya mengalir deras membelah bukit di puncak Gunung Sunda, sekira 800 meter di atas permukaan laut.

Tumpahan air itu menyajikan panorama indah pada birunya langit, sejuknya udara, dan hijaunya pepohonan yang menyelimuti suasana wisata yang berada di Kecamatan Sagalaherang Kabupaten Subang. Belum lagi percikan air terjun yang dingin, sejuk dan putih, membuat para wisatawan tak tahan lagi ingin segera bermandi ria di bawahnya. Curug Cijalu “ditemani” dua makam yang dikeramatkan dan juga “ditemani” oleh air terjun lain yang dikenal dengan nama Curug Perempuan yang terletak sekira 100 meter sebelum Curug Cijalu.
Dengan dicapai dari Kecamatan Wanayasa (18km), Sagala Herang (20km) dan dari Kabupaten Subang (37km) Purwakarta (40km) Bandung (63km) yang diketahui kondisi jalan umumnya beraspal dan hanya sebagian kecil yang masih berupa jalan batu, dapat dilalui kendaraan roda dua dan empat, sarana transportasi umum yang ada ojek atau colt carteran dari Wanayasa.
Selain curug Cijalu dan Curug Perempuan, terdapat pula lapangan sebagai areal untuk camping bagi para pengunjung Secara keseluruhan, tempat ini dapat dijadikan alternatif bagi pengunjung yang memiliki hobi berpetualang. Selain menjanjikan ketenangan dan ketenteraman, juga kedamaian menjadi perpaduan yang kompak untuk menunjang daya tarik tersendiri.
Wana wisata ini terdiri dari hutan alam dan hutan tanaman, sumber air yang ada berupa mata air yang saat ini dimanfaatkan untuk keperluan pengunjung. Potensi visual lansekap didalam kawasan yang menarik adalah air terjun, hutan alam dengan udara yang sejuk dan hutan tanaman. Dimana wana wisata ini digunakan untuk wisata harian dengan kegiatan yang dapat dilakukan adalah piknik, mandi air terjun, lintas alam dan mendaki gunung.
Berdasarkan sejarahnya bahwa Curug Cijalu dibuka sejak 1 September 1984 berlokasi dihutan produksi blok Cijengkol RPH Tangkubanperahu Utara, BKPH Wanayasa Kab Purwakarta dan Desa Cipancar Kab Subang. Dengan luas 8ha daerah ini diproyeksikan sebagai obyek wisata. Dimana dulu sebelum dikelola air terjun itu sudah sering dikunjungi orang-orang keturunan Tionghoa. Mereka menganggap air terjun itu tempat mandi para bidadari, tutur seorang penduduk Desa Cipancar yang sudah tinggal disana lebih dari enam puluh tahun . Kepercayaan ini timbul lantaran saat matahari pagi memancar, akan bermunculan pelangi-pelangi kecil memantul dari air terjun. (Diperoleh dair berbagai sumber)
Global Warming: Suhu Indonesia Mulai Menyamai Timur Tengah
Udara di berbagai wilayah Tanah Air semakin hari kian menyengat. Tak berlebihan jika banyak warga masyarakat yang mengeluh dan gelisah. Bukan hanya pada siang hari, malam hari pun panas masih tetap terasa. Membuat tidur pun menjadi kurang nyenyak karena tubuh kerap bermandikan keringat.
Ini pula yang mendorong banyak pemilik mobil dan pemilik rumah memasang AC atau memperbaiki pendingin ruangan yang sudah tidak terasa dingin. Kontan, penyedia atau pebisnis AC mendapat sedikit limpahan rejeki.
Selidik punya selidik, suhu panas yang dirasakan di berbagai wilayah Tanah Air ternyata lebih panas dari biasanya. Bahkan, dari percakapan yang terjadi di kalangan masyarakat, suhu bisa mencapai 35 derajat celcius.
Lebih gila lagi, seperti dilansir dari Badan Metereologi Geofisika (BMG) Maritim Tanjung Perak, Surabaya, suhu tertinggi di Surabaya antara pukul 13.00-14.00 WIB bisa mencapai 40 derajat celcius atau hampir mendekati suhu udara di Mekkah, Arab Saudi, yang pada saat musim panas suhunya berkisar 42-45 derajat celcius.
Seperti dilansir dari detikcom, Kepala Sub Bidang Informasi Meteorologi Publik BMG, Kukuh Ribudianto mengatakan, peningkatan suhu sepekan belakangan, selain karena posisi matahari yang saat ini tepat berada di atas pulau Jawa, awan yang menghalangi radiasi matahari juga tidak ada. Sehingga sinar matahari menyinari bumi tanpa pelapis.
Jika terus-terusan seperti ini, jelas masyarakat Tanah Air bisa kerepotan. Suasana panas tak hanya dalam hal politik saja ternyata sudah merambah ke wilayah lain. Untung saja, tak seperti di Timur Tengah, air masih bisa dikonsumsi sepuasnya. (*)
Syekh Nikahi: Bocah Paedophilia Berkedok Agama

Foto: Triono/detikcom
Nantinya, istri-istrinya tersebut akan dikumpulkan Syekh Puji di lingkungan ponpes Miftahul Jannah, miliknya. Di lingkungan ponpes setiap istri akan punya tugas masing-masing. Misalnya istri pertamanya, Ummi Hani (26), yang ditugasi mengurus ponpes. Sedangkan Ulfa, sejak 19 Oktober 2008 diserahi tugas mengelola PT Silenter, yang bergerak dalam bidang pembuatan kaligrafi dari kuningan. Di perusahaan tersebut Ulfa duduk sebagai general manager.
Begitu juga dua cilik yang pekan ini akan dinikahinya. Keduanya, kata Syekh Puji, bakal menangani usaha-usaha yang ia miliki. “Mereka bakal mengurusi usaha yang saya miliki. Makanya akan saya didik,” jelas Puji.
‘Kumpul-kumpul bocah’ ala Syekh Puji sekalipun mendapat kecaman LSM perlindungan anak dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), tidak membuat Syekh Puji bergeming. Pria brewokan ini mengaku kalau langkahnya sesuai dengan ajaran agama.
Tapi menurut pandangan Dosen Psikologi Politik Pasca Sarjana Universitas
Indonesia (UI) Hamdi Muluk alasan itu hanya sebagai tameng belaka. Sebab secara psikologi, prilaku Syekh Puji bisa dikatakan pengidap peadophilia.
“Paedophilia adalah sifat kejiwaan manusia yang mempunyai ketertarikan kepada anak di bawah umur,” jelasnya kepada detikcom.
Pengidap penyakit ini, kata Hamdi, punya ciri-ciri antara lain, ia punya ketertarikan seksual terhadap anak-anak, baik itu balita atau anak belum akal baligh. Dan ia menyukai seks yang jarak umurnya jauh berbeda.
Dari ciri-ciri tersebut Syekh Puji bisa dibilang masuk dalam kriteria paedophilia. Sebut saja selisih usianya dengan Ummu Hani, istri pertamanya. Usia Syekh Puji saat ini menginjak 43 tahun. Sedangkan Ummu Hani baru berusia 26 tahun. Jadi usia Syekh Puji dan Ummu Hani berjarak 17 tahun. Dan sekarang ia ingin menikahi gadis berusia 12, 9, dan 7 tahun.
Rektor UIN Jakarta, Prof. Azumardi Azra juga sependapat dengan Hamdi Muluk.
Menurutnya, agama seharusnya tidak dijadikan alasan pembenaran oleh Syekh Puji. Secara fiqih memang wanita bisa dinikahi setelah dewasa, tandanya ya menstruasi. Tapi kan ada UU Perkawinan yang mengatur batas umur minimal 17 tahun, kalau di bawah itu ya artinya menikahi anak-anak,” jawab dia usai jadi pembicara dalam diskusi yang digelar Yapto Centre di Jakarta, Kamis (23/10/2008).
Dengan demikian prilaku sang syekh ini sebenarnya bisa dikenai sanksi hukum.
Sebab selain telah melanggar UU Perlindungan Anak, ia juga bisa dijerat Pasal 288 KUHP. Namun bisakah syekh dipidanakan?
“Seharusnya bisa. Polisi harusnya melakukan penyidikan terhadap kasus ini,” jelas pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar saat dihubungi detikcom.
Kendala polisi, imbuh Bambang, hanya di pihak keluarga anak-anak tersebut. Untuk itu, polisi harus melibatkan LSM, seperti Komnas Perlindungan Anak untuk menjadi jembatan. Yang terpenting anak-anak tersebut bisa diselamatkan. Sebab bila hal pernikahan anak-anak di bawah umur dibiarkan, UU Perlindungan Anak jadi tidak berarti.
Padahal di negara liberal seperti Amerika perlindungan terhadap anak mendapat perhatian sangat serius. Misalnya kasus sekte poligami di Texas, Amerika. Sekte yang dipimpin Warren Jeffs merupakan pecahan gereja Mormon yang penganut poligami.
Meski Warren dan pengikutnya selalu memakai dalil agama terkait aktivitasnya, namun April 2008 lalu, Warren dan pengikutnya ditangkap karena dianggap telah melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.
Aparat Departemen Keselamatan Publik Texas dalam pengeledahan di area ranch
(peternakan) milik sekte poligami menemukan 400 anak-anak di lokasi tersebut. Mereka sengaja dipelihara di ranch tersebut untuk mau melakukan hubungan seks saat memasuki masa pubertas.
Otoritas setempat juga mendapati bukti, kalau anak gadis berusia 13 tahun
dinikahkan secara spiritual kepada pria yang sudah mempunyai beberapa istri.
Selain itu sejumlah gadis muda yang hamil dan baru melahirkan juga ditemukan di kompleks tersebut.
Apakah prilaku Syekh Puji bisa dikategorikan seperti sekte poligami di Texas? Mungkin jauh berbeda. Tapi yang jelas, Syekh Puji telah melanggar UU Pernikahan, KUHP serta UU Perlindungan Anak.Krimonolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala mengatakan, polisi kalau sudah mengetahui pernikahan Syekh Puji dengan gadis di bawah umur harus segera beraksi. “Polisi harus segera bertindak. Tidak perlu menunggu laporan lagi,” tegasnya.
sumber: detik.com
KPUD Subang Bakal Dituntut Tim Kampanye Imas – Primus
Tim kampanye Imas – Primus di Subang bakal menggugat KPUD Subang terkait kecurangan yang diprediksi terjadi di daerah Selatan. Seperti dilansir dari Pikiran Rakyat, Dadang Suherman dari tim kampanye Imas – Primus menyatakan pihaknya akan menggugat KPU terkait ditemukannya sejumlah pelanggaran dalam pelaksanaan pemungutan suara.”Antara lain kami menemukan adanya penggelembungan suara untuk calon tertentu di daerah selatan,” pungkasnya. (*)
Cabup Incumbent Subang Unggul di 16 Kecamatan
Hasil quick count Pilkada Subang mencatatkan calon incumbent Eep Hidayat – Ojang Sohandi sebagai pasangan yang memperoleh suara terbanyak. Seperti dilansir dari situs resmi KPUD Subang, Eep – Ojang unggul di sekitar 16 kecamatan yang terkonsentrasi di bagian Selatan Subang.
Pasangan Imas – Primus yang menempel dengan perolehan cukup ketat unggul suara di 11 kecamatan wilayah Utara Subang. Sementara, seperti prediksi banyak kalangan masyarakat, Bambang – Lusi berhasil mendapat suara terbanyak di wilayah kota Subang. Tapi, di luar prediksi Eep – Ojang ternyata berhasil pula menggalang suara signifikan di Subang kota.
Secara keseluruhan, total hak pilih yang menyalurkan aspirasinya dalam Pilkada Subang adalah 769.195 suara dari daftar pemilih tetap sebanyak 1.059.275 suara. (*)
KIPP Pusat: Golongan Putih Subang Capai Seperempat Persen Lebih
Dari pantauan Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Pusat, tercatat bahwa angka golongan putih (golput) cukup tinggi dalam Pilkada Subang periode 2008-2013 yang digelar pada Minggu (26/10).
Hal tersebut diungkap Kaka Suminta, anggota Divisi Monitoring KIPP Pusat yang turut memantau secara langsung Pilkada Subang. “Jumlah golongan putih mencapai 27%,” tuturnya saat dihubungi kotasubang online, Selasa (28/10).
Dari pantauan Kaka, seperempat lebih masyarakat yang tak menyalurkan suaranya pada saat pencoblosan dipicu oleh tidak terbagikannya kartu pemilih. “Kartu pemilih menumpuk di PPS mencapai 15 hingga 20 persen,” tandasnya. (*)
Eep-Ojang Unggul Sementara di Pilkada Subang
Dari informasi Pilkada Subang yang berhasil dihimpun tim kotasubang online hingga (28/10), incumbent Eep Hidayat-Ojang Sohandi masih memegang posisi teratas dengan perolehan 34,17% suara. Sebagai catatan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Subang, selesai melakukan penghitungan suara cepat pada Minggu (26/10) malam.
Meski kemenangan sudah diraih Eep Hidayat – Ojang Sohandi, namun KPUD Subang menjelaskan bahwa hal itu masih merupakan hasil sementara. Menurut KPUD Subang, hasil penghitungan cepat yang selesai pada Minggu (26/10) pukul 23.30 WIB tersebut masih berupa perkiraan semata. Hasil suara yang sebenarnya bakal diperoleh dari penghitungan manual yang dilakukan KPUD selanjutnya.
Dalam quick count, Eep Hidayat-Ojang Sohandi berhasil meraup 262.825 suara (34,17%) . Pasangan Imas Aryumsingsih-Primus Yustisio mencatatkan 252.673 suara (32,85 %). Pasangan Bambang Heryanto-Alma Lucyati membukukan 160.279 suara (20,84%).
Terpaut cukup jauh dari posisi tiga besar, pasangan Ahmad Juanda-Nandang Sudrajat meraih 45.364 suara (5,90%). Pasangan Diding Kurniawan dan Hasyim meraup 33.514 (4,3%). Pada posisi buncit adalah Kusbini-Hernanto Kukuh memperoleh 14.550 suara (1,89%). (*)
