Kompor Gas Gratis Dilematis
Belakangan banyak terjadi kasus atau keluhan tentang kompor gas gratis dari pemerintah yang difungsikan sebagai pengganti minyak tanah. Contohnya baru-baru ini ada dua kejadian kompor gas gratis itu meledak. Bahkan, sampai menyebabkan korban jiwa dan beberapa yang lainnya cedera. Isu-nya, kualitas kompor gas ini buruk. Komentar sebagian kalangan masyarakat yang sudah kebagian kompor gas gratis ini adalah mutu regulator dan kompornya kurang menjamin. Kalo gak salah paketnya berupa tabung kapasitas 3 kg, regulator sama kompornya.
Sebenarnya ada sebagian masyarakat yang ‘bungah’ mendapatkan kompor gratis ini, tapi kualitasnya yang rendah dan resikonya membuat mereka was-was memakainya. Ujung-ujungnya, kompor gas ini malah dijual lagi ke orang lain dan sebagian masyarakat ini kembali menggunakan minyak tanah. Padahal, wilayah yang sudah kebagian kompor gas gratis ini akandicabut subsidi minyak tanahnya. Artinya, harga minyak tanah di daerah tersebut akan melonjak tajam. Nah loh, serba salah kan.
Akhirnya terjadilah situasi dimana sebagian masyarakat miskin tetap menggunakan minyak tanah, sementara kompor gas gratis beralih ke tangan pengguna lain yang tergolong mampu secara finansial. Iya dong, bisa dibilang mampu karena mereka bisa membeli kompor gas gratis ini dari tangan si penerima kompor gas yang sebenarnya.
Kasus lain seputar kompor gas gratis ini adalah meskipun secara rupiah hitung-hitungan beli gas lebih murah dari beli minyak tanah (ini fakta) tapi ternyata masyarakat miskin ogah memakai gas. Apa pasal? Ini karena masyarakat yang kebagian jatah kompor gratis hanya memiliki kemampuan membeli secara eceran. Kalau gas tersebut diecer seperti minyak tanah, misalnya dijual satu liter, setengah liter, seperempat liter dll, barulah mereka mampu. Namun, jika dituntut untuk membeli sekaligus gas dalam kapasitas 3 kg sebagian besar ternyata belum mampu. Nah loh, serba salah lagi.
Jadi (mungkin nggak seluruhnya) konversi minyak tanah ke gas ini akhirnya malah salah sasaran. Dan, kualitas kompor dan regulator ini kayaknya diproduksi asal-asalan dan hanya jadi lahan pengeruk rupiah bagi pemenang tendernya alias produsen pembuat (Buktinya terjadi beberapa kasus kompor meledak dan rusak dalam tempo yang tak terlalu lama setelah konversi dilaksanakan).
Bagaimana ini?
Hari Pitrajaya
Jurnalis Independen Subang