Media Informasi Subang

Kabar Untuk Masyarakat Subang dan Sekitarnya

Archive for the ‘Bisnis usaha’ Category

RINA KANIA, Dirikan Kerajaan Bisnis Jamur Kecil-kecilan

without comments

Sebagai seorang ibu,Rina bertanggung jawab membiayai dua anaknya.Kegagalan dalam berumah tangga justru memicunya menjadi entrepreneur.

KOMODITAS yang dipilihnya adalah jamur. Namun, dia mengembangkannya menjadi beragam produk yang sarat gizi. Jamur merupakan bahan makanan dengan gizi tinggi. Jamur juga dapat menjadi substitusi pengganti daging yang memiliki kandungan gizi senada.

Namun sayangnya makanan ini belum terlalu populer di kalangan masyarakat. Berawal dari pemikiran tersebut, Rina Kania mendirikan perusahaan Saffa Lestari pada Juni 2005. Perusahaan makanan tersebut menggunakan berbagai jenis jamur sebagai bahan baku utama.

”Jamur adalah makanan sehat yang gizinya tidak kalah dengan daging lho.Makanya saya memilihnya sebagai bahan baku utama makanan di perusahaan kecil saya ini,” ujar Rina.

Awalnya Rina hanya memproduksi makanan ringan dengan label Alifa Mushroom Chips.Keripik jamur itu terbuat dari jamur tiram serta jamur kuping putih dan hitam. Dia menyediakan jamur dalam berbagai rasa seperti barbeque, keju,jagung bakar,pedas, dan manis.

Saffa Lestari dapat menghasilkan 20 kg kerupuk yang dibungkus dalam berbagai varian. Harganya berkisar Rp9.000–11.000. Usahanya termasuk usaha padat karya. Rina hanya mempekerjakan tiga orang dan satu orang yang khusus mengurus kebun jamur di Garut.

Rina bercerita, pelaku usaha makanan olahan berbahan jamur kerap kesulitan mendapatkan bahan baku jamur kuping.Pasalnya,salah satu varian jamur kayu tersebut hanya tumbuh dengan baik di ketinggian 800–1.200 meter.

”Kalau jamur tiram masih bisa di dapat di pasar yang ada di Bandung, tetapi jamur kuping tidak. Biar nggak susah, pengusaha makanan olahan seperti saya harus punya kebun jamur sendiri,”kata Rina. Kebun jamur milik Rina tidak luas, hanya 5×8 meter yang terdiri atas 2.000 baglog. Setiap baglog dapat menghasilkan 7 ons jamur siap olah yang dapat dipanen setelah enam hingga tujuh bulan.

Tidak puas dengan pemasaran Mushroom Chips, Rina membuka rumah makan yang menyajikan berbagai jenis hidangan berbahan jamur, mulai makanan kecil hingga minuman berbahan baku jamur.

Sumber: Seputar Indonesia (evi panjaitan)

Written by haripitrajaya

Oktober 29, 2008 at 4:16 am

Ditulis dalam Bisnis usaha

Ditandai dengan , ,

Tambang Emas Bisnis Sampah

without comments

Selama ini sampah menjadi masalah yang krusial dalam penanganannya. Menurut catatan Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta, setiap orang di Jakarta menghasilkan sampah rata-rata 2,9 liter per hari. Dengan penduduk sekitar 12 juta jiwa, termasuk para komuter, tiap hari mereka menimbun 26.945 meter kubik atau sekitar 6.000 tong sampah.

Siapa sangka, sampah yang begitu banyak bisa menjadi bisnis yang menguntungkan dan memiliki prospek bagus. Sampah organik bisa dijadikan kompos, sementara anorganik mengalami proses lebih panjang, yakni melewati mesin pencacah dan pencuci.

Sampah plastik yang kondisinya masih bagus dijual untuk didaur ulang oleh pihak lain, sedangkan sampah yang tidak bisa diapa-apakan lagi akan dipadatkan untuk dijadikan biomassa yang banyak dibutuhkan perusahaan / pabrik karena harga BBM yang semakin melangit.

Keuntungan dari pengelolaan sampah ini pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Ada seorang pebisnis sampah di Bekasi yang bisa menghasilkan minimun Rp. 225 juta per bulan. Wow! Pelanggannya untuk produk biomass adalah beberapa pabrik semen, seperti PT Indocement Tunggal Prakasa, PT Holcim Indonesia, dan beberapa pabrik gula. Selain menangani sampah, ia juga melayani waste management di perumahan kawasan Cinere, BSD City Serpong, Cibubur, Citeureup, dan Pasar Ciroyom, Bandung.

Bukan main! Bahkan sampah pun bisa jadi “emas” buat orang-orang yang kreatif dan punya semangat kuat untuk berbisnis mandiri. Bagaimana dengan Anda?

(www.dexton.adexindo.com)

Written by haripitrajaya

Oktober 21, 2008 at 2:41 am

Ditulis dalam Bisnis usaha

Ditandai dengan ,

Bisnis Ayam Bakar Bermodal Rp. 500 ribu

with one comment

Bisnis ayam bakar berkembang bak jamur ke seantero negeri. Pasalnya, usaha ini hanya membutuhkan modal kecil dan menghasilkan untung besar.

Seperti halnya warung ayam bakar Mas Mono. Menunya memang sederhana dan terlihat sepele. Hanya ada ayam bakar legit sedikit pedas, nasi putih hangat, dua iris mentimun, daun kemangi, kol, dan sambal merah. Namun, dengan menu ini ayam bakar Mas Mono mampu beranak pinak hingga memiliki 10 cabang.
Semula, Agus Pramono atau yang akrab disapa Mas Mono mengawali usahanya dari penjaja pisang cokelat dari satu SD ke SD yang lain. Keuntungannya sangat kecil. Kemudian dia tercetus untuk berjualan menu yang bisa diterima segala lapisan masyarakat, yakni ayam bakar.

Dengan dibantu istrinya, Mono lantas membuka warung ayam bakar kalasan di depan Universitas Sahid Jakarta pada tahun 2000. Kala itu, modalnya hanya Rp 500.000 yang digunakan untuk membeli 5 ekor ayam, bumbu lalapan, piring satu lusin, dan beberapa perlengkapan berjualan ayam.

Dengan racikan bumbu sang istri yang hobi memasak, mampu mendongkrak penjualan ayam bakarnya, dari 5 ekor ayam menjadi 20 ekor ayam per hari. “Sekarang, di Tebet Timur saja, sehari bisa menghabiskan 200 ekor,” kata Staf Operational Ayam Bakar Mas Mono Sri Mulyati.

Dengan 10 gerainya, kini ayam bakar Mas Mono menghabiskan lebih dari 1.000 ekor ayam dengan ukuran 800 gram per ekor. Untuk seporsi ayam bakar ditambah segelas minuman ayam bakar Mas Mono mematok dengan harga rata-rata Rp12.500-Rp 15.000.

Sri mengatakan ketika orang ramai membicarakan flu burung, omzetnya sempat turun hingga 50 persen. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Perlahan orang mulai mengerti dan berani makan ayam. “Awalnya memang omzet turun hingga 50 persen, tapi warung kembali ramai lagi,” tutur Sri.

Selain pelayanan yang cepat, untuk memikat pembeli, ayam bakar Mas Mono memajang sederet potret artis terkenal yang pernah bersantap di warungnya.

Ayam bakar Mas Mono memiliki trik tersendiri untuk membakar ayam dan menghasilkan rasa yang khas. Yakni, ayamnya tidak dibakar sampai kehitaman dan kering agar tidak terlihat legam. Selain itu, cara ini juga untuk menghindarkan rasa pahit yang biasanya menyertai ayam bakar.

Sri mengaku merebus ayamnya dengan sedikit air dan bumbu (mengungkep) terlebih dulu selama satu jam dalam suhu 100 derajat Celcius. Tujuannya, untuk membuat bumbu meresap dan daging ayam menjadi empuk.
Sumber:kompas.com

Written by haripitrajaya

Oktober 21, 2008 at 2:36 am

Ditulis dalam Bisnis usaha

Ditandai dengan ,

Soebronto Laras: Sukses Berkat Kejujuran

without comments

Dari sebuah perusahaan nyaris bangkrut, dia merakit Indomobil Niaga International menjadi usaha dengan omset Rp 150 miliar setahun. Baginya, kejujuran dan integritas adalah dua hal yang tak terpisahkan kepentingannya.

Tak semua chief executive officer (CEO) masih terlibat aktif di setiap kegiatan perusahannya dalam usia 60-an tahun. Soebronto Laras, Presiden Direktur Indomobil Niaga International (INI), termasuk salah satunya. Dia memimpin perusahaan otomotif besar itu dengan satu prinsip: kejujuran.

“Kejujuran adalah fondasi kuat untuk menciptakan perusahaan besar. Saya orangnya simpel. Saya berkomunikasi dengan siapa saja di perusahaan. Saya terlibat segala sesuatu. Saya mempunyuai slogan hidup. Saya willing to be visionary, saya selalu berpikir dan melihat ke depan. Saya mencoba memperkenalkan kejujuran dan integritas. Itu penting. Jangan lihat ke belakang. Saya sudah 35 tahun di bisnis ini.” ujar Soebronto Laras.

Dia memang berasal dari keluarga pedagang otomotif. Ayahnya, R. Moerdowo adalah importir mobil Citroen, Tempo, dan Combi, sejak 1949. Setamat SMA, 1964, Yonto, panggilan Soebronto, melanjutkan studi rekayasa mesin di Paisley College for Technology, Inggris. Kemudian ia melanjutkan di Hendon College for Business Management, di negeri yang sama.

Selagi di sanalah, ia bergaul akrab denga Roesmin Noerjadin (mantan Menteri Perhubungan), dan Benny Moerdani (mantan Pangab). Di Inggris, Yonto sempat menjadi staf lokal Atase Pertahanan KBRI di London.

Kembali dari sana, 1972, anak kedua dari empat bersaudara ini berkenalan dengan Atang Latief, pemilik Bank Indonesia Raya dan sejumlah kasino. Bahkan Yonto menjadi orang kepercayaan Atang. Ia menjabat Direktur PT First Chemical Industry, yang bergerak dalam bidang formika, alat-alat plastik, dan perakitan kalkulator.

Empat tahun kemudian ia menjadi dirut perusahaan perakitan motor mobil Suzuki. Dari sebuah perusahaan yang nyaris bangkrut, sekarang berdiri megah perusahaan dengan omset per tahun Rp 150 miliar dan aset Rp 90 miliar.

“Semua ini berkat kerja sama seluruh karyawan,” kata pria yang berusia 65 tahun ini merendah. Sejak 1981 bisnisnya bertambah kuat dengan masuknya Grup Salim. Pada 1984, ia menjadi Dirut PT National Motors Co. dan PT Unicor Prima Motor, perakit mobil Mazda, Hino, dan sepeda motor Binter.

Obsesi Soebronto untuk memberikan kontribusi bagi negeri ini, sudah banyak diwujudkannya. Tahun 2008 ini, lewat Suzuki, Yonto mengeluarkan sebuah mobil jagoannya, yaitu Suzuki NeoBaleno.

Tampilan Neo Baleno merupakan metamorfosis dari SX4. Tak salah jika di pasar India, kendaraan tersebut masuk kategori varian SX4 sedan. Di Indonesia ‘peranakan’ SX4 itu dilabeli nama Neo Baleno.

“Pilihan nama itu sudah melalui proses studi di pasar sedan. Kami tidak mau pakai nama SX4 atau sedan Crossover. Pertimbangan ini juga untuk memperkuat imej,” katanya.

Pilihan nama itu pun untuk memperluas pangsa pasar konsumen otomotif yang ingin dibidik. Dulu, kesan sedan adalah hanya untuk pasar kalangan orang tua. Perpaduan sedan dengan mobil hatchback SX4 ini, memungkinkan kalangan itu untuk jatuh hati. Begitu pun dengan pangsa pasar pembeli otomotif dari kalangan anak muda.

Yang menarik dari Neo Baleno ini adalah perubahan segmen dari kelas small sedan menjadi mid sedan. “Tampilan Revolution to Perfection menjadikan Neo Baleno sejajar dengan Toyota Corolla Altis karena kendaraan itu merupakan sedan dengan segmen kelas lebih tinggi dibandingkan Vios atau City,” ucap Soebronto.

Yonto tak hanya sibuk berusaha. Dia juga membagi waktu untuk aktivitas sosial. Di kalangan olahraga, dia aktif. Yonto pernah jadi pengurus di Ikatan Motor Indonesia (IMI), Persatuan Tenis Lapangan Indonesia (Pelti), hingga Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI).

Tak usah heran. Dulu, dia memang penggila olahraga. Di masa remaja, dia ikut balapan motor bersama rekan-rekannya, termasuk Tinton Soeprapto. Dia juga suka bersepeda. “Waktu umur saya 14 tahun, saya suka bersepeda bersama almarhum Sophan Sophian dari Jalan Sudirman sampai ke Kebayoran baru lewat Prapanca. Jaraknya puluhan kilometer. Itu masa kecil yang tidak bisa saya lupakan,” kenangnya.

Yonto yang menikah dengan Herlia Emmi Yani, putri almarhum Jenderal Ahmad Yani dan dikaruniai dua orang anak. Ia mengaku, di balik kesuksesannya sebagai pemimpin perusahan besar, ia menyesal tak bisa meluangkan waktu banyak bagi keluarganya.

“Karena kesibukan saya, saya memang merasa seperti tidak mempunyai waktu bagi keluarga. Tapi setiap ada waktu saya suka menjemput cucu saya sepulang sekolah dan mengantar dia ke toko buku untuk membeli buku favoritnya. Tapi yang jelas komunikasi itu penting,” ungkapnya. (*)

(inilah.com

Written by haripitrajaya

Oktober 7, 2008 at 4:52 am

Pestisida Nabati “Made in” Subang

without comments

Ia mengabdikan hidupnya untuk memperbaiki alam. Berjuang mengembalikan kesuburan tanah.

Di Kecamatan Jalan Cagak, Subang, tak ada yang tak mengenal sosok Teddy Cucu Suhaya. Pria berperawakan sedang dan berkulit hitam ini akrab dipanggil Aang. Ia penggerak petani Subang, Jawa Barat, agar ramah pada lingkungan.

Setiap hari Aang selalu ditemani rokok Minak Djinggo. Dengan sepeda motor buatan 1976 ia menyusuri jalan-jalan kampung yang becek dan curam untuk menemui para petani. Tujuannya cuma satu, mengajak para petani di Kabupaten Subang melestarikan alam.

Kegundahan Aang berawal dari melihat kenyataan sungai-sungai di sana mengering, disusul merosotnya produksi padi. Menurut pria kelahiran Cianjur 12 Desember 1957 ini, penurunan produksi padi bukan hanya akibat sungai mengering, melainkan juga karena penggunaan pestisida dan pupuk kimia secara berlebihan.

Inspirasi datang pada 1983 saat ayah dua anak ini hijrah dari kampungnya, Sukabumi, ke Subang, tepatnya di Kampung Cinengah, Curugrendeng. Dulu Aang dalang wayang golek. Sambil mendalang, dia berbisnis mebel dan kusen. Ia sama sekali tak ingin menjadi petani. Apalagi sebagian keluarganya merupakan birokrat tingkat desa dan kecamatan. Pria lulusan sekolah teknik ini hanya tertarik pada mebel dan otomotif.

Namun, pernikahan Aang dengan Warmah, anak petani asal Subang, membuatnya tertarik bertani. Apalagi mayoritas tetangganya adalah petani. Setelah menjalani profesi baru ini Aang sadar betapa sulit menjadi petani. Jangankan bisa kaya, untuk menyekolahkan anak saja banyak petani yang kesulitan.

Aang mulai penasaran. Ia mencoba mencari penyebabnya. Ternyata biaya produksi yang dikeluarkan petani dari waktu ke waktu semakin meningkat akibat rusaknya alam dan pestisida. Pada tahun 2005 Aang membantu Masyarakat Peduli Alam Subang yang ia ketuai. Organisasinya bergerak di bidang rehabilitasi pertanian, kehutanan, dan lingkungan hidup. Kini organisasi itu memiliki 30 kelompok tani, yang tiap kelompok beranggotakan sekitar 20 orang. Kelompok itu menyebar di enam desa di Subang.

Masyarakat Peduli Alam Subang mengampanyekan penggunaan pestisida nabati dan pupuk organik. Menurut Aang, penggunaan pestisida nabati dan pupuk organik telah terbukti berhasil merehabilitasi tanah yang jenuh pestisida dan pupuk kimia. Selain murah, pestisida nabati dan pupuk organik mampu meningkatkan hasil panen sampai dua kali lipat. Sebab, dengan menggunakan dua bahan alami itu unsur hara tanah meningkat, sementara tingkat keasamannya menurun. Selain itu, predator yang berguna bagi petani tidak terbunuh dan hasil tanamannya tidak berbahaya bagi manusia.

Aang memproduksi pestisida nabati untuk para petani. Ia mendapat ilmu membuat pestisida nabati dari Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) pada 1987.

Menurut dia, cara membuat pestisida nabati mudah dan bahannya murah. Bahan yang digunakan adalah daun picung, mindi, buah gadung, suren, kenikir, brotowali, kunyit, kencur, tembakau, kecubung, sambiloto, lengkuas, sereh, dan daun cengkeh. Tanaman-tanaman itu pun terdapat di kampung dan hutan.

Pembuatan pestisida dan pupuk organik turun-temurun dari orang tua dulu diserap?

Sebetulnya orang tua dulu sudah bisa membuat pestisida nabati, tapi secara tidak langsung seperti kalau masa buah belum berisi itu sering membakar daun surian untuk mengusir hama kungkang (walang sangit). Kalau sekarang, bukan begitu karena ditunjang dengan teknologi, walaupun teknologi manual. Jadi, dibikin ramuan yang hasilnya cairan disemprotkan langsung.

Bagaimana pembuatan pestisida nabati itu?

Pada dasarnya, pembuatannya sangat mudah, tanpa uang bisa jalan. Karena langsung mengambil daun-daun. Pestisida nabati itu terbuat dari daun-daun yang memang mengandung racun, ditumbuk atau digiling jadi cairan. Memang dosisnya tidak sama antara satu tanaman dan tanaman lain. Jenis-jenis tanaman yang mengandung racun itu nggak sama nilai racunnya. Misalnya, gadung itu memiliki racun keras, maka penggunaannya disesuaikan kebutuhan.

Jadi, semua orang pasti bisa?

Pasti bisa! Jangankan orang desa, orang Jakarta juga bisa bikin kalau lihat langsung bikinnya.

Bahan bakunya mudah didapat?

Mudah didapat. Gadung bentuknya kayak ubi, beracun tapi lezat juga. Nggak usah ditumbuk, dioleskan saja kulitnya, walang sangit kabur.

Jadi, bau batang pohon ini bisa mengusir hama?

Nah, bau batang pohon ini bisa mengusir walang sangit, karena daunnya beracun. Hanya, rumitnya, kita harus memanjat pohon untuk mendapatkannya. Petani malas melakukan itu.

Tanaman ini bisa dibudidayakan di sekitar rumah?

Sebetulnya sudah mulai dibudidayakan, tapi tetap susah, karena buah gadung muncul hanya pada musim kemarau. Jadi, bulan Agustus biasanya panen gadung. Nah, sekarang para petani mulai menanam gadung di pinggiran rumah. Berarti sekarang bahan baku yang dibutuhkan mulai ditanam di dekat-dekat rumah.

Namun, hingga kini pembuatan pestisida nabati masih manual. Aang bercita-cita membuat mesin pembuat pestisida nabati agar hasilnya lebih banyak. Apalagi ia baru saja menemukan mesin pengupas kulit kopi. Dengan mesin itu para petani yang dulu mengupas kopi secara manual kini produksiya meningkat.

Karena memburu daun-daun itu, hampir tiap hari Aang menyusuri hutan ditemani Aji, cucunya yang berumur tujuh tahun. Ia sengaja mengajak cucunya untuk mendidik kecintaan terhadap alam.

Bahan-bahan itu semakin langka seiring dengan berkurangnya hutan. Karena itu Aang menanami lahan kritis dengan tanaman bahan pestisida nabati. Tananam itu selain menyuplai bahan pestisida, juga mampu mengembalikan mata air yang mati akibat penggundulan. Ia menargetkan tahun ini bisa menanami 100 hektare lahan kritis. Namun Aang selalu mengalami kesulitan biaya untuk pengadaan bibit yang harganya Rp 3 ribu per batang.

Bagaimana kasiat pupuk organik dan pestisida nabati sebenarnya?

Lebih baik dari pestisida kimia! Seperti yang telah dicoba di Desa Ponggang. Biasanya pakai pupuk kimia anorganik menghasilkan 5 sampai 6 ton padi per hektare. Dengan pupuk organik hasilnya mencapai 9 sampai 10 ton. Itu sama sekali tidak pakai pastisida kimia! Pakai pestisida organik!

Berapa dosis untuk setiap satu musim tanam?

Perbandingannya, tergantung hamanya, ada yang pakai dosis ¼ liter dicampur air 50 liter atau 20 liter. Kalau hamanya lebih ganas, dosisnya harus lebih keras. Itu tergantung kebutuhan. Takarannya sudah tertera di botol, tapi kalau masyarakat pakai feeling saja nggak apa-apa. Sebab, untuk pestisida nabati, kelebihan dosis nggak berdampak jelek karena bahannya alami. Kalau pestisida ini kena tanah, unsur haranya bagus juga.

Walau ingin memproduksi pestisida nabati secara modern, Aang tidak ingin bekerja sama dengan perusahaan. Ia takut jika pestisida nabati diproduksi perusahaan harganya jadi tinggi dan petani akan kembali menjadi korban. Ia ingin produksi dilakukan masyarakat secara mandiri, walau hingga hari ini tak ada modal. Namun, Aang tak patah arang. Ia mengajak anggota kelompoknya mengumpulkan dana untuk memproduksi pestisida nabati.

Kini Aang menyerahkan sawahnya kepada anak sulungnya. Dia ingin berkosentrasi melestarikan alam dan membuat pestisida nabati.

(Liza Desylanhi)

www.vhrmedia.com

Written by haripitrajaya

Juli 19, 2008 at 6:19 am

Ditulis dalam Bisnis usaha

Sukses dari Ayam

with one comment

Si Nyuut bangkit dari keterpurukan

Ada guyonan berbahasa Arab di kalangan alumnus Pondok Gontor: “Kullu Asep nyuut illa Asep Sulaiman Sabanda.” Kebanyakan santri yang bernama Asep itu nyuut alias “cantik” kecuali Asep Sulaiman Sabanda. Nyuut adalah istilah seksis di 1990-an dalam kehidupan homogenestik santri Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Sebuah penanda bagi santri yang memiliki daya tarik seksual tinggi, yang biasanya ditandai dengan wajah ganteng, berkulit putih-bersih, dan berperilaku lemah gemulai. Entah kebetulan atau tidak, para santri bernama depan “Asep” identik dengan streotipe seksis ini. Dan Asep Sulaiman Sabanda adalah pengecualian. Ia berkulit gelap, tinggi kurang dari 165 sentimeter, dengan jidat lebar dan rahang yang kokoh. Asep memang tidak nyuut dalam arti fisik.

Tapi kini, dialah Asep yang paling nyuut dalam arti sukses bisnis. Ia menjadi pengusaha ayam broiler yang sukses, menjadi buah bibir para alumni Gontor. Lelaki 29 tahun itu kini memimpin kelompok bisnis bernama Santika Group, yang membawahkan enam perusahaan. PT Santika Duta Nusantara, bisnis inti Santika yang menghasilkan sekitar 2 juta ekor ayam per siklus (1,2 juta ekor per bulan) dan dilakukan bersama 600 peternak binaan atau plasma. PT Metrovet Anugerah Lestari, yang menyediakan kebutuhan obat hewan ternak. Serta PT Aufa Duta Wisata, yang bergerak di sektor tour & travel. Baru-baru ini, Asep pun membeli ruko di daerah Tebet, Jakarta Selatan, seharga Rp 1,75 milyar. Santika Berlian Motor, yang bergerak di bidang penjualan, penyewaan mobil dan alat-alat berat. Juga PT Santika Plastindo Utama, yang menyediakan peralatan peternakan dan plastik serta konstruksi bangunan. Di Al-Aliim Santika Sdn Bhd —perusahaan ini berada di Brunei Darus itu bergerak di biang peternakan ayam, trading, dan konstruksi.

Selain itu, Asep juga mendirikan Yayasan Al-Ihyaa sebagai salah satu bentuk kepedulian sosialnya. Yayasan ini memiliki se kolah TK dan madrasah, semuanya gratis. Untuk alokasi kegiatan sosial, Asep mengambil kurang lebih 5% dari total keuntungan perusahaannya. Terletak di Dusun Karang Cegak, Desa Cidahu, sekitar tujuh kilometer dari kota Subang, Jawa Barat, omset perusahaan Pak Haji Asep mencapai Rp 200 milyar per tahun. Atas kerja kerasnya itu, Asep dinobatkan sebagai “Young Entrepreneur of the Year 2006” oleh Ernst & Young. Ia juga masuk finalis kategori social entrepreneur.

Tentu saja, perjalanan Asep mencapai puncak sukses tidak dicapai dalam sekejap. Lulus dari Gontor pada 1995, ia “nyantri’’ di Pusat Latihan Manajemen dan Pengembangan Masyarakat, sebuah lembaga pelatihan entrepreneur yang ada di bawah payung Pondok Modern Gontor. Di sini,suami Vina Nuriyanti itu belajar bisnis dan manajemen. Asep pernah berjualan gantungan kunci, gesper, dan kaus di emperen Jalan Malioboro, Yogyakarta. Memulai bisnisnya secara mandiri pada 1998. Sebelumnya, ia ikut dalam bisnis ayahnya, Haji Shobur Tadjudin, yang juga peternak ayam. Awalnya, ia menyewa lahan ternak milik orang tuanya untuk beternak ayam sebanyak 10.000 ekor. Dari sini meraup keuntungan Rp 10 juta. Selajutnya ia melabarkan kandangnya untuk memelihara 60 ribu ekor ayam. Tapi bukannya untung, Asep malah buntung Rp 70 juta. Lantaran banyak ayamnya yang mati terserang penyakit. Toh, dia tak patah arang. Asep menambah ayamnya menjadi 80 ribu ekor. Lagai-lagi ia tekor Rp 90 juta. Asep yang pada waktu itu baru berumur 20 tahun ia punya beban utang Rp 180 juta.

“Saya bingung saya melakukan apa. Saya tiba tiba menjadi pemuda yang tadinya tidak punya apa-apa, tapi karena angan-salam Asep pun menanamkan sahamnya. Perusahaan angannya, berhutang sebanyak itui” tutur Asep mengenang masa pahitnya. Setiap hari pergi di pagi hari dan pulang setelah jam 10 malam untuk menghindari kejaran para kreditornya.

Untunglah, ada sang bapak, Haji Shobur, kini sudah almarhum, menyemangaiti putranya agar bangkit dari keterpurukan. Mendengar anaknya punya hutang Rp 180 juta, ia bukannya kaget atau marah. Sang ayah justru berkata, “Utang segitu saja, kok kamu bilang banyak, “ tutur Haji Shobur. “Dibanding masa depanmu, itu nggak ada artinya. Jangan kamu jual masa depanmu. Bahkan kalau semua kekayaan bapak habis, itu tetap tidak artinya dibanding masa depanmu,” Ucapan sang bapak itu membangkitkan rasa percaya diri Asep dan menancap hingga sekarang.

Selanjutnya, Asep dibawa bapaknya untuk menemui orang-orang yang duitnya dipinjam Asep. “Mereka kaget. Orang dicari susah, kok malah datang. Disitulah timbul kepercayaan diri saya, kata Asep. Akhirnya utang Rp 180 juta itu hanya Rp 11 juta yang dibayar orang tuanya. “Sisanya saya bayar sendiri. Tapi, kalau Bapak tidak memebri semangat, saya tidak bisa bangkit seperti saat ini,” ujar Asep. Jika H. Shobur Tajudin masih hidup, pastilah ia tersenyum bahagia melihat prestasi anak keduanya itu. Setelah berhasil melunasi utangnya pada 2001, perkembangan bisnis ayam Asep melesat bak meteor. Hal ini karena pada tahun 2001 ia menerapkan system intiplasma membawahi 600 petani plasma yang tersebar di Subang, Purwakarta, Indramayu, Sumedang, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Mojokerto, Malang dan sekitarnya.

Perusahaan inti milik Asep menyediakan bibit, pakan, obat-obatan dan pembinaan teknis. Ia juga bertanggung jawab untuk pemasaran dan pembagian hasil penjualan ayam. “Sistem ini solusi yang tepat untuk problem kesenjangan ekonomi dan pengangguran,’’ ujar Asep. Berdiri di lahan seluas 32 hektare, dengan kandang di tujuh lokasi, dua diantaranya menerapkan closed house system. Dua kandang itu mampu memproduksi 3,4 juta ekor ayam per siklus dan sekarang baru 700 ribu ekor. Konon, kandang ini yang terbesar kedua di Asia Tenggara setelah milik Charoeon Pokphand di Thailand.

Ditemui GATRA Sabtu pekan lalu di kantornya yang sederhana, Asep, Si Nyuut itu, terlihat sangat sibuk. Beberapa tamu mengantri bertemu dengannya. Ketika azan lohor berkumandang, pengemar tulisan Hermawan Kertajaya ini menghentikan wawancara. “Kita salat dulu ya,” katanya. Rezeki, kata Asep, adalah takdir jatah. Semua orang sudah ada jatahnya. Kalaupun kita harus tetap berikhtiyar, kata Asep, karena itu untuk mendapatkan jatah kita. Melebihi jatah tidak bisa, tapi tidak berusaha juga tidak dapat. “Tapi jangan serakah, karena kita tidak bisa ambil jatah orang lain. Dan jangan takut, karena jatah kita nggak bakal diambil oleh orang lain!” Asep menegaskan.

(Luqman Hakim Arifin)

Sumber: MAJALAH GATRA

Written by haripitrajaya

Juli 5, 2008 at 1:12 pm

Ditulis dalam Bisnis usaha

Potensi Bisnis Cetak Foto

with one comment

Bisnis cetak foto semakin menjamur di Subang, Anda ingin tahu untung ruginya serta apa saja yang mendasari perkembangannya? Tunggu kelanjutannya di kota subang online. (*)

Written by haripitrajaya

Juli 4, 2008 at 4:50 am

Ditulis dalam Bisnis usaha