Media Informasi Subang

Kabar Untuk Masyarakat Subang dan Sekitarnya

Archive for the ‘Opini’ Category

Kampanye Pilkada Subang: Artis vs Kiai vs Birokrat vs Pendidik

with 11 comments

Pilkada Subang sudah memasuki masa kampanye. Dalam waktu dua minggu kampanye yang diberikan, para calon bupati Subang mau tak mau harus siap unjuk gigi dan adu ketenaran untuk meraih dukungan. Harus diakui saat ini, kekuatan masing-masing calon masih agak sulit diprediksi, baik peserta dari kalangan partai maupun independen. Tapi sudah jelas calon yang lama malang melintang dalam politik Subang jelas daya saing lebih kuat.

Eep Hidayat dan Bambang Heryanto adalah dua nama yang tak asing lagi khususnya di kalangan birokrat. Faktor tersebut yang membuat optimisme kubu kedua calon ini begitu tinggi. Apalagi sebagai incumbent yang masih begitu dekat posisinya dengan tampuk kepemimpinan Subang saat ini, Eep Hidayat jelas memilik pamor yang tak bisa diremehkan.

Di luar konteks politik, ada Primus Yustiso yang sangat familiar berkat posisinya sebagai selebritis. Sektor ini memberikan kekuatan yang tak bisa dianggap enteng buat Imas yang menjadikan artis tersebut sebagai wakilnya. Merambah wilayah pendidikan, ada Kusbini yang notabene namanya sudah begitu lekat dan memiliki perjalanan panjang dalam dunia ini. Jelas menjadi pertimbangan bagi institusi terkait.

Tak ketinggalan pula Djuanda yang muncul dari jalur bernuansa agama. Sebagai pemimpin pondok pesantren modern terbesar di Subang, langkah tokoh ini bisa saja menjegal pasangan lain. Pendukungnya pun setidaknya bakal bermunculan terutama dari kalangan pesantren yang tak sedikit jumlahnya di wilayah Subang. Menyusul Diding dari kawasan Selatan tak boleh dianggap enteng karena muncul dari wilayah potensial menjaring dukungan itu.

Lebih jauh, dibandingkan pilkada di daerah lain, Subang merupakan pilkada dengan jumlah peserta terbanyak. Artinya, kompetisinya bakal sangat ketat dan perebutan suara tentu saja amat sengit. Otomatis berbagai strategi akan dilakukan peserta. Mulai dari trik menarik dukungan lewat koridor yang benar dan sesuai jalur. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa strategi menarik dukungan sedikit menyenggol atau menyeleweng dari aturan bakal terjadi pula.

Para calon bupati ini bakal berebut dukungan dari 1,5 juta jiwa penduduk kabupaten Subang yang notabene tak semuanya memilih. Pasalnya, bisa dipastikan ada saja masyarakat yang termasuk golongan putih (golput). Sementara ini, para peserta pilkada minimal sudah mengantongi tiga persen dukungan atau sekitar 45 ribu jiwa yang menjadi syarat minimal maju sebagai calon bupati.

Satu hal yang bisa menjadi catatan, perebutan posisi kali ini seolah mewakili setiap segmen masyarakat di Subang itu sendiri. Lihat saja, tokoh yang muncul ke permukaan relatif lengkap mulai dari kalangan pendidik, artis, kiai sampai birokrat. Boleh dibilang, pilkada kali ini adalah kompetisi antar kubu dari jalur berbeda-beda.

Pada akhirnya, sebagai masyarakat, kita hanya bisa berdoa siapa pun yang terpilih nantinya bakal menjadi pemegang amanah yang benar dan lurus. Bisa menjadi wakil buat semua kubu pada umumnya dan sanggup menjadi wakil bagi masyarakat Subang khususnya. Amien.

(Hari Pitrajaya)

Written by topik panas

Oktober 10, 2008 at 6:28 am

Korupsi Disdik dan Kesbang Subang

with one comment

Bantulah Orang Subang Sekali Lagi!

Sidang 2 perkara korupsi di lingkungan Disdik dan Kesbang beberapa hari lalu digelar. Baru sampai pembacaan dakwaan. Sayang, tidak ada media yang mengekspos, apalagi media gambar.

Bantulah orang subang sekali lagi!

Banyak hal yang harus dicermati dalam kedua perkara itu. Banyak hal yang coba dikaburkan dari fakta sebenarnya. Meski logika hukum secara gampang dapat mengendusnya. Apalagi berkaitan dengan Pilkada yang sebentar lagi di gelar.

Bantulah orang subang sekali lagi!

Saya mungkin tidak akan minta bantuan, jika Abah Renggo punya penerbitan sendiri atau jika insan pers yang berkeliaran di Subang benar-benar pro reformasi.

Bantulah orang subang sekali lagi!

(EICHMAN RICHLEER)

Bisa dihubungi di atepys@yahoo.co.id

Written by topik panas

September 10, 2008 at 4:43 am

Ditulis dalam Opini

Ditandai dengan ,

Waspadalah Modus Operandi Penipuan Gaya Baru ‘Iptu Gunawan’ !

without comments

Sudah sering saya dengar orang tertipu lewat SMS berhadiah, memeras lewat ponsel dan berbagai cara lain yang menggunakan sarana teknologi canggih lainnya. Tapi tak pernah terpikirkan peristiwa itu bakal menimpa saya.

Awalnya seseorang mengaku sebagai Iptu Gunawan dari unit narkoba Polda Metro Jaya menelepon saya dengan nomor 085273504145 sekitar pukul 11.00. Saya diminta mematikan HP sampai jam 15.00. Alasannya, seorang bandar narkoba yang tengah jadi incaran polisi mengalihkan nomornya ke nomor HP saya.

Untuk memudahkan pelacakan, saya diminta mematikan hanphone. Untuk meyakinkan, si penipu itu beberapa menit kemudian menelepon saya yang kebetulan lupa belum mematikan HP. “Tolong Pak ini tugas negara, tolong dibantu untuk menangkap bandar narkoba ini,” ujar suara di seberang sana yang mengaku bernama Iptu Gunawan tadi.

Rupanya, sesaat kemudian setelah yakin HP saya non aktif, si penipu ini kemudian menelepon rumah ibu saya di Subang, Jawa Barat. Mereka mengabarkan saya mengalami kecelakaan lalu lintas dan terbaring kritis di rumah sakit.

Tak tanggung-tanggung orang yang mengaku Gunawan ini ganti ‘satuan’ dan menyebutnya dari Unit Laka Lantas (Kecelakaan Lalu Lintas) Polda Metro Jaya. Ketika ditanyakan rumah sakitnya dan luka-luka yang diderita, pelaku tidak menjelaskannya secara detil.

“Ini sudah menjadi tanggungjawab petugas merawat korban lalu lintas,” kira-kira begitulah pernyataan sang penipu itu. Mulia sekali, itu yang ada dibenak ibu saya ketika itu.

Pelaku kemudian meminta nomor telepon ayah saya dengan alasan biar lebih leluasa berbicara mengingat ibu saya tak henti-hentinya menangis. Ia juga menanyakan nomor telepon istri saya. Tak kurang dari semenit kemudian istri saya ditelepon dan meminta HP-nya juga dimatikan dengan alasan pelacakan nomor ganda yang dilakukan bandar narkoba. Sama seperti alasan yang dikemukakan ketika sang penipu meminta menonaktifkan ponsel saya.

Cerita berlanjut, ketika tak lama kemudian ayah menerima telepon dari orang yang sama. Tapi kali ini pembicaraan sedikit berbeda.

Dari ujung sana, sang penipu itu mengabarkan kondisi saya yang menurut ceritanya terbaring kritis di sebuah rumah sakit di Jakarta. Selain luka dalam, kaki saya katanya terpaksa harus diamputasi.

Untuk melancarkan operasi, katanya, harus mendatangkan sebuah alat medis dari ‘Kimia Farma’ Semarang. Lalu dari ujung telepon terucap dana yang diperlukan mencapai Rp 45 juta seraya menyebut sebuah nama dan nomor telepon untuk pengiriman dananya guna memuluskan akal bulusnya.

Sebenarnya ibu sempat beberapa kali menghubungi ponsel saya dan istri, tapi tak berhasil karena memang tidak aktif. Sampai akhirnya menelpon adik saya yang sama-sama bekerja di Jakarta.

Kebetulan ia juga punya teman yang sekantor dengan saya. Ia pun mengecek keberadaan saya dan menceritakan apa yang dialami keluarga di kampung. Sontak saya kaget sekaligus berang. Saya baru saya sadar bahwa orang yang mengaku polisi dan meminta mematikan hanphone adalah seorang penipu. Sialan… umpat saya ketika itu. Rasa marah dan kesal berkecamuk.

Tanpa menunggu waktu lama, saya pun langsung mengecek kondisi ibu yang sempat pingsan dan mengabarkan bahwa saya sehat-sehat aja di Jakarta. Untungnya tidak terjadi apa-apa dengan kesehatan ibu saya yang baru sembuh setelah sakit selama lima bulan.

Untungnya lagi ayah saya belum sempat menyetorkan dana Rp 45 juta seperti yang diminta petugas yang mengaku-ngaku polisi itu. Yang saya tidak habis pikir adalah cara mereka menipu luar bisa canggih. Mereka dengan mudah mendapat nomor telepon saya termasuk nomor kontak orang tua di kampung.

Memang bisa saja data itu didapat dari lembaran aplikasi kartu kredit ataupun rekening bank, ataupun aplikasi pengguna telepon pasca bayar. Cara mereka berbicara juga meyakinkan, dengan nada dan gaya bicara seperti aparat sungguhan (karena seringkali karena tugas-tugas saya mengharuskan berurusan dengan dengan aparat kepolisian).

Alhamdulillah saya luput menjadi korban tapi bukan mustahil ada orang yang lain yang sudah menjadi korbannya. Tulisan saya ini diharapkan bisa mengingatkan orang lain agar lebih berhati-hati mengingat makin canggihnya aksi tipu-tipu penjahat di jaman susah seperti ini.

Rizal Ramadhan

luloet@yahoo.com

Written by topik panas

Agustus 21, 2008 at 3:34 am

Ditulis dalam Opini

Ditandai dengan ,

Parlemen, Panggung Politik atau Hiburan?

with 2 comments

Kampanye Pemilu 2009 dipastikan lebih semarak dan berwarna.Para calon legislatif yang akan tampil di mimbar tidak lagi didominasi wajah-wajah politikus yang serba serius dan kaku.

Para artis dan selebriti akan lebih banyak tampil. Kehadiran mereka bukan sekadar tambahan alias sebagai penghibur,  melainkan sudah menjadi fokus utama kampanye itu sendiri.

Ya, nama-nama seperti Wulan Guritno, Marini Zumarnis, Vena Melinda, Evie Tamala, Eko Patrio kini dijagokan sejumlah partai politik menjadi caleg.

Mereka bukan sekadar vote getter yang cukup menempati nomor urut sepatu, melainkan sudah diplot menjadi caleg utama yang diharapkan bisa maju dan bertempur di Senayan. Dari draf pendaftaran caleg yang sudah dirilis sejumlah partai, artis dan selebriti yang terjun ke ranah politik mencapai puluhan orang.

Bahkan, ada pasangan artis membela dua partai berbeda, yakni Marissa Haque yang tampil untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Ikang Fauzi yang mendermakan kepopulerannya untuk Partai Amanat Nasional (PAN). Fakta ini menunjukkan artis sedang laris manis dan menjadi rebutan.

Wajah nan cantik dan ganteng mereka yang kerap tampil di acara-acara televisi serta meramaikan ingar-bingar isu program infotainment diharapkan akan menjadi daya tarik ibu-ibu dan kalangan remaja, hingga kemudian memilih mereka sebagai wakil di parlemen. Ini jelas menjadi keuntungan tersendiri bagi partai.

Para pimpinan partai meyakini, dengan bekal kemampuan akting, melawak, dan menyanyi di panggung, kampanye partai mereka akan mampu menyedot massa untuk datang ke arena kampanye, memberikan suaranya, dan kemudian berhasil menjadi partai pemenang pemilu yang menguasai mayoritas kursi parlemen.

Tidak ada yang salah terkait langkah partai menampilkan artis. Dalam persaingan partai yang kian ketat dan keras, baik pimpinan partai maupun fungsionaris partai yang bertanggung jawab pada bidang pemenangan pemilu dituntut melakukan terobosan dan political marketingyang cespleng.

Dari sekian pilihan, yang paling murah, meriah, dan terbukti efektif adalah menampilkan artis. Ini bisa dilihat dari keberhasilan beberapa artis memenangkan pemilihan kepala daerah. Sebagai warga negara, para artis dan selebriti juga mempunyai hak yang sama untuk berkiprah di dunia politik. Kita juga tidak bisa terburu-buru menjustifikasi bahwa mereka tidak akan mampu memainkan permainan politik di parlemen, termasuk untuk menyampaikan aspirasi partai dan konstituen mereka.

Jangan juga menuduh mereka terjun ke politik sebagai pelarian karena sudah tidak laku lagi di panggung hiburan. Tapi tak dapat dimungkiri, kesan yang muncul dari fenomena tersebut lebih banyak menunjukkan pragmatisme partai. Partai tidak mau bersusah payah melakukan kaderisasi, hingga bisa mencetak kader-kader andal yang bisa ditawarkan kepada masyarakat.

Mereka memilih caracara instan dengan menampilkan wajah-wajah yang setiap hari nongol di televisi. Pragmatisme juga kental terlihat karena partai-partai tidak mau berisiko menampilkan intelektual-intelektual kampus yang notabene lebih memahami persoalan kemasyarakatan dan pemerintahan, dan secara teoretis lebih mengetahui solusi apa yang bisa memecahkan persoalan tersebut.

Dalam persepsi partai, goal dari pemilu adalah kursi legislatif, bukan sekadar menawarkan visi-misi yang belum tentu bisa menarik dan dipahami masyarakat. Partai tidak mau capek-capek memikirkan apa yang terjadi nanti, apakah persoalan masyarakat, persoalan bangsa yang seabrek ini bisa tertangani. Yang penting, meraup kursi sebanyak-banyaknya! Pilihan pragmatis sudah dijatuhkan.

Sekarang kembali kepada masyarakat yang mempunyai hak memilih, apakah mau dibius dengan wajah cantik dan ganteng para artis dan selebriti, atau masih berpikir jauh mengenai masa depan bangsa ini.

Kini kita tinggal menyaksikan panggung parlemen tidak lagi menjadi panggung politik, karena sudah menjelma menjadi panggung hiburan. Kita juga akan menyaksikan Gedung DPR di Senayan tidak angker karena sudah ”dicabik-cabik” program infotainment.
Selamat menikmati sajian hiburan baru!!!
(www.anas_nkh.blogspirit.com)

Written by topik panas

Agustus 16, 2008 at 3:15 pm

Ditulis dalam Opini

Ditandai dengan , ,

Subang: Cabup Independen Ancam Cabup Partai

with 2 comments

Kehadiran calon independen dalam pemilihan kepala daerah (pikada) Subang tampaknya bakal menjadi ancaman serius bagi calon yang diusung partai politik. Kelahiran Undang-undang No. 32 tahun 2004, yang memperbolehkan calon independen ikut dalam pemilihan kepala daerah memang cukup menarik.

Tak berlebihan, belakangan artis pun banyak yang terjun ke ranah ini mengandalkan pamor dan ketenarannya. Di Subang, beberapa artis sempat digadang-gadang bakal meramaikan pilkada. Namun, akhirya hanya Primus Yustisio yang benar-benar serius. Belakangan, dia bahkan berhasil menggaet seorang tokoh muda yang cukup disegani sebagai pendampingnya.

Kehadiran cabup independen memang memberikan warna baru dan nuansa positif dalam pilkada Subang. Artinya, warga sipil pun kini berhak mencalonkan diri sebagai kepala daerah tanpa harus menggunakan kendaraan partai. Terbukti, dalam pilkada kali ini peta politik Subang berubah cukup drastis. Kemunculan beberapa calon independen membuat para elit politik mengkaji ulang strateginya.

Ancaman atau bukan, keputusan akhir tetap ada di tangan masyarakat Subang. Di sinilah, kecermatan dan kejelian dalam memilih calon yang ada benar-benar menjadi hal krusial. Jangan sampai latar belakang, pengalaman, nama baik, kredibilitas, ketenaran dan perilaku sang calon dikesampingkan begitu saja. (*)

Written by topik panas

Juli 29, 2008 at 9:01 am

Promo Tarif Operator Selular, Gaet Pelanggan Lewat Tipu Daya?

with one comment

Perang promosi tarif selular baik GSM atau CDMA yang panas beberapa waktu lalu cenderung sudah berlalu. Namun, aroma kompetisi di wilayah ini masih saja sengit berhembus. Bukan rahasia jika embel-embel ‘gratis’ atau ‘murah’ jadi rebutan para operator untuk ‘mengelabui’ dan ‘memikat’ pelanggan atau calon konsumennya.

Dari sebuah surat pembaca yang masuk ke email kotasubang online, perilaku kurang terpuji dari operator dalam memanipulasi kata ‘gratis’ atau ‘murah’ ternyata masih belum berubah dan tetap berlangsung. Meski, kritik pedas terus bermunculan terkait trik promosi penuh ‘tipu daya’ itu, telinga operator seperti tertutup rapat dan enggan mendengar. Alhasil, sampai detik ini iming-iming promosi bertitel ‘gratis’ dan ‘murah’ masih berseliweran di media elektronik, spanduk, sampai baliho.

Salah satu operator yang cukup gencar dan agresif memuntahkan promosi ‘gratis’ ke pasaran adalah XL. Lewat emailnya, IS yang merupakan pengguna XL merasa dikelabui. Menurut IS, promo yang digelar XL memang terkesan menguntungkan, tapi dibalik semua itu ternyata ada udang di balik batu, justru XL seperti mengeksploitasi pelanggannya secara diam-diam.

Melalui pengalamannya, IS mengambil kesimpulan bahwa lewat promo gratis yang tengah digelarnya, XL berhasil ‘mengelabuhi’ pelanggannya. Dari beberapa kali uji coba selama seminggu dalam masa promo XL per tanggal 21 – 27 Juni 2008 dengan jam percakapan acak, ternyata IS menemukan beberapa kejanggalan. Sebagai informasi, panggilan dilakukan antara Subang – Jakarta.

Dari setiap panggilan yang dilakukan, sebelum durasi percakapan mencapai satu jam maka sambungan telepon pasti terputus tiba-tiba (dropped call). Artinya untuk melakukan percakapan lebih dari satu jam harus kembali melakukan panggilan ulang. Otomatis, biaya yang mesti dikeluarkan bertambah, tak sesuai dengan promosi yang diberikan bahwa pelanggan bisa bercakap sepuasnya.

Pada pukul 00.00-05.59 dengan tarif gratis panggilan sulit dilakukan dan kerap ‘busy’. Sementara tarif promo Rp 600 pada pukul 06.00-10.59 untuk bicara sepuasnya tak terbukti. Pasalnya sebelum mencapai satu jam, sambungan telepon selalu terputus. Sehingga harus mengeluarkan pulsa lagi untuk melakukan panggilan ulang. Hal yang sama terjadi pada tarif promo berbeda di jam berbeda.

Melihat pengalaman IS, seharusnya operator tak melakukan promosi yang ‘membodohi’ pelanggannya. Apa yang dilakukan XL seolah seperti ‘memperdaya’ sebagian pelanggannya. Adalah lebih baik menggelar promosi lebih elegan tanpa kesan mengiming-imingi pelanggan (menambah customer base) sehingga akhirnya malah merasa dirugikan saat apa yang dipromosikan tak sesuai kenyataan. Nah, bagaimana tanggapan operator tentang hal ini?

Satu lagi, dari pengalaman IS, di Subang sudah sejak beberapa bulan terakhir jaringan XL tidak stabil. Kadang mengalami gangguan, suara putus-putus atau kadang lenyap. Nah, apakah ini termasuk dampak dari tarif murah atau memang seperti itu layanan XL. Mungkin pihak operator bisa menyampaikan jawaban?

Written by topik panas

Juli 24, 2008 at 3:41 am

Jajan di Indomaret Bisa Pakai Ponsel

with one comment

Cukup menarik tatkala melihat terobosan yang dilakukan Telkomsel. Pasalnya, pengguna kartuHALO, simPATI atau Kartu As bisa semakin mudah bertransaksi di gerai Indomaret. Pasalnya, membeli berbagai kebutuhan rumah tangga seperti minyak goreng, sabun, odol sampai kebutuhan pribadi seperti rokok, makanan ringan bisa dilakukan menggunakan ponsel, tanpa perlu memakai uang tunai.

Kini, lewat layanan T-Cash, pelanggan Telkomsel bisa melakukan transaksi digital di 1.000 gerai Indomaret sepanjang Lampung-Jawa-Bali. ebagai promosi awal, hingga 15 Oktober 2008, Telkomsel memberikan keuntungan tambahan untuk transakasi digital ini.

Pertama, setiap transaksi menggunakan T-Cash di Indomaret minimal sebesar Rp 50.000 akan mendapatkan bonus 10 poin dari Telkomsel Poin. Kedua, untuk 10.000 pertama pendaftar T-Cash dengan nilai Rp 50.000 akan mendapatkan bonus pulsa sebesar Rp 10.000 bagi pengguna simPATI atau Kartu As atau potongan tagihan Rp 10.000 untuk kartuHALO.

Sebagai tambahan, semua pendaftar sampai tanggal 15 Oktober 2008 akan diundi untuk mendapatkan hadiah lima sepeda motor yang diundi pada tanggal 20 Oktober 2008. Untuk menikmati layanan T-Cash ini, pelanggan Telkomsel cukup registrasi melalui SMS ketik REG TCash Nama#Tanggal Lahir<ddmmyyyy>#Nama Ibu Kandung dan kirim ke 2828.

Keunggulan T-Cash

Sebagai informasi, T-Cash merupakan layanan mobile wallet dari Telkomsel, di mana ponsel berfungsi layaknya dompet penyimpanan uang (digital cash) yang siap digunakan untuk bertransaksi secara mudah, cepat, dan aman. Mereka dapat melakukan pembelian barang, cek saldo, cek transaksi yang pernah dilakukan, bahkan pengambilan tunai.

Layanan T-Cash memungkinkan ponsel pelanggan dapat berfungsi layaknya dompet penyimpanan uang (digital cash) yang bisa digunakan untuk melakukan transaksi dengan nominal kecil (micropayment) di bawah Rp 1 juta.

(hari pitrajaya)

Written by topik panas

Juli 23, 2008 at 7:40 am

Subang Siap Antisipasi Kelangkaan Energi Listrik Jawa Barat

with one comment

Rasanya cukup miris jika melihat wacana kelangkaan listrik di Tanah Air saat ini. Cukup ironis melihat pemadaman bergilir yang dilakukan PLN belakangan. Juga bagaimana pemerintah mencoba mengalihkan jam kerja pabrik dan perusahaan di hari libur supaya tak terjadi overload pemakaian. Akibatnya sudah jelas, berbagai pihak saling menyalahkan dan menuding.

Apapun yang terjadi, entah siapa yang salah atau benar, urusan listrik adalah masalah nasional yang harus dibereskan dan dibenahi bersama. Jika tak tuntas, imbasnya adalah rakyat yang dirugikan. Menyikapi hal tersebut, kita sebagai warga Subang setidaknya patut bersyukur dan berbangga karena proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) segera berdiri di Gunung Tangkuban Perahu, Subang, Jawa Barat.

Lebih jauh, proyek PLTP di Gunung Tangkuban Perahu itu sendiri merupakan program Pemerintah Pusat dengan menghabiskan dana keseluruhannya Rp1,5 trilun Dari jumlah area keseluruhan sekitar 200 hektar, seluas 160 hektar atau 80 persen berada di wilayah Subang. Area seluas itu, berada di Desa Cicenang Kecamatan Jalancagak dan lintas Kabupaten (Bandung, Subang dan Purwakarta).

Potensi panas bumi Subang ini jelas bisa membantu pasokan energi listrik di masa mendatang. Apalagi selain di Gunung Tangkuban perahu, ada 25 persen potensi panas bumi juga berada di Gunung Tampomas.

Semoga saja eksplorasi lokasi panas bumi yang rencananya dimulai pada awal 2009 hingga tiga tahun ke depan akan berjalan benar dan tanpa hambatan. Setelah itu, pada tahun keempat akan dilanjutkan dengan kegiatan eksploitasi. Alhasil, pada 2012 nanti PLTP sudah bisa direalisasikan dan suplai listrik untuk konsumsi Jawa Barat tidak akan lagi mengalami krisis atau kendala lain.

Dari segi keuntungan, sebagai Kabupaten yang dijadikan lokasi proyek PLTP, Subang akan mendapat keuntungan secara materi sebesar 32 persen per tahunnya. Sementara untuk Pemerintah Provinsi sebesar 16 persen, Pemerintah Pusat 20 persen dan Kabupaten di Jawa Barat akan mendapat bagian sebesar 32 persen. Proyek ini diharapkan bisa menghasikan energi listrik sebesar 150 megawatt (MW) untuk suplai listrik di Jawa Barat. Semoga saja, tak ada lagi krisis listrik.

(Hari Pitrajaya)

Written by topik panas

Juli 19, 2008 at 2:34 pm

Ditulis dalam Opini

Subang Indonesia versus Subang Malaysia

without comments

Menarik sekali jika melihat bahwa kata ’subang’ lebih didominasi oleh kota Subang-nya Malaysia. Coba saja ketik kata kunci ’subang’ untuk pencarian keseluruhan di google maka yang muncul paling banyak adalah Subang – Malaysia.

Namun, kemunculan blog maupun situs seperti www.kotasubang.wordpress.com dan situs Subang lain diharapkan bakal memupus dominasi ini, sehingga pencarian berita tentang kota Subang-nya Indonesia menjadi lebih mudah dan praktis.

Berikut kata kunci yang sering diakses:

berita subang, cerita subang, data subang, info subang, kabar subang, kisah subang, radar subang, semua tentang subang, informasi subang, kota subang, kasus subang, halaman subang, news subang, media subang, catatan subang, subang kota nanas, subang jawa barat, subang indonesia, lowongan subang, karir subang, kabupaten subang, kategori subang, karir subang, arsip subang, umum subang, lingkungan subang, anak muda subang, musik subang, lifestyle subang, gaya hidup subang, kegiatan subang, perusahaan subang, bisnis subang, usaha subang, osis subang, sekolah subang, pegawai negeri subang, pejabat subang, artis subang, tokoh subang, penginapan subang, tangkuban perahu subang, ciater subang, sari ater subang, bangunan subang, gedung subang, perumahan subang, korupsi subang, kasus subang, kesehatan subang, teknologi subang, kemajuan subang, asal subang, pria subang, anak subang, lelaki subang, wanita subang, gadis subang, perempuan subang.

Perubahan Perilaku Transaksi di Era Less Cash

with one comment

Perkembangan teknologi yang semakin cepat juga mendorong adanya perubahan perilaku secara besar-besaran. Hal yang sama juga terjadi pada transaksi pembayaran yang mengalami pergeseran dari penggunaan dana tunai menjadi dana nontunai atau menggunakan media elektronik.

Menurut para pengamat perbankan dan telekomunikasi, proses transaksi elektronik dengan mengunakan ponsel dinilai lebih efektif karena sifatnya yang sangat personal, mengingat hampir semua masyarakat di Indonesia telah memiliki ponsel. Hal ini pun dapat mengakibatkan pertumbuhan transaksi elektronik yang lebih cepat dibanding mobile banking. Dengan kata lain operator berfungsi sebagai media penyedia infrastruktur, sedangkan pihak perbankan tetap berfungsi sebagai media penyimpanan uang tunai seperti sebagaimana mestinya.

Jumlah pengguna seluler, yang saat ini telah mencapai lebih dari 100 juta orang atau hampir setengah dari jumlah populasi di Indonesia, diyakini masih jauh lebih besar dibanding nasabah perbankan. Hal ini mengakibatkan prediksi pasar yang cukup luas dan masih terbuka lebar. Belum lagi proses transaksi perbankan yang sudah mulai terintegrasi di ponsel dan internet secara bertahap. Bahkan jumlah calon pengguna potensial pun masih jauh lebih banyak dibanding para pengguna ponsel dan nasabah perbankan.

Dari sisi masyarakat maupun pelaku industri, penggunaan uang elektronik ini tentunya semakin memudahkan dalam melakukan transaksi, mengurangi biaya handling uang tunai dan di satu sisi mengurangi risiko keamanan apabila membawa uang tunai dalam jumlah banyak. Disinyalir, penggunaan uang cash saat ini rawan akan pemalsuan dan pencurian oleh karena itu masyarakat harus membiasakan diri menggunakan instrumen nontunai.

Kebanyakan pengamat perbankan menekankan perlunya kerjasama antar penyelenggara untuk bersama-sama mengembangkan uang elektronik sesuai koridor yang telah digariskan dalam ketentuan yang dikeluarkan Bank Indonesia. Yang terutama adalah untuk menciptakan efisiensi nasional melalui standarisasi platform pembayaran sehingga antar penyelenggara bisa saling interoperabel. Pada gilirannya kondisi tersebut akan mengurangi biaya ekonomi secara nasional. Selain itu tentunya aspek perlindungan nasabahnya harus menjadi concern utama dalam setiap pengembangan instrumen nontunai tersebut.

Diharapkan perkembangan penggunaan instrumen nontunai ini dapat mendukung aktivitas ekonomi masyarakat yang pada gilirannya akan memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Edukasi Masyarakat Memiliki Peranan Penting

Namun sayangnya edukasi kepada masyarakat memiliki peranan yang cukup penting mengingat masih banyaknya masyarakat yang lebih memilih transaksi tunai ketimbang elektronik. Hal ini dikarenakan rasa tidak percaya masyarakat terhadap keamanan transaksi elektronik dan lebih kepada perubahan perilaku transaksi masyarakat sehari-hari.

Awareness masyarakat terhadap transaksi elektronik bisa ditumbuhkan lebih cepat ketimbang menumbuhkan awareness penggunaan mobile banking. Bahkan beberapa pengamat memprediksi program awareness ini akan akan membutuhkan waktu tidak kurang dari 7 tahun. Pasalnya program edukasi mobile banking telah dilakukan selama waktu itu sehingga tidak akan sulit untuk melakukan program edukasi untuk teknologi turunannya, yaitu elektronik money (T-Cash).

Diharapkan edukasi ini tidak hanya berkutat pada masalah proses transaksi tapi juga pemahaman yang jelas mengenai keamanan transaksi. Begitu juga dengan edukasi mengenai platform yang jelas tentang interoperabilitas tiap-tiap perangkat sehingga kenyamanan dan kemudahan transaksi semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat banyak.Telkomsel sendiri saat ini masih menggunakan jasa teknologi dari Finnet sebagai switching provider untuk settlement dan rekonsiliasi pembayaran.

Nantinya bukan hal yang mustahil jika pengguna transaksi elektronik akan terus meningkat seiring dengan semakin luasnya penetrasi pengguna ponsel di Indonesia.

(Sarie)

Written by topik panas

Juli 15, 2008 at 4:39 am

Ditulis dalam Opini